PERUBAHAN SOSIAL BERDASAR AL-QUR’AN


Ayat Al-qur’an Sebagai Dasar Perubahan Sosial

Sebagai sebuah proses, perubahan sosial mengandung beberapa karakterietik dan aspek yang antara lain termuat dalam ayat-ayat berikut:

1. Otonomi Masyarakat

Sebagaimana manusia-manusia pembentuknya yang mempunyai otonomi dalam berkehendak dan bertindak, masyarakatpun diberi otonomi oleh Allah untuk menjalani proses sosial sebagai konsekuensi hidup bersama.

Allah berfirman dalam Surat Ar-ra’d(13) :11

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ (١١)

Ar-Ra’d(13) : 11.

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah[1]. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[2] yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

[1] Bagi tiap-tiap manusia ada beberapa Malaikat yang tetap menjaganya secara bergiliran dan ada pula beberapa Malaikat yang mencatat amalan-amalannya. dan yang dikehendaki dalam ayat ini ialah Malaikat yang menjaga secara bergiliran itu, disebut Malaikat Hafazhah.

[2] Tuhan tidak akan merobah Keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.

2. Dinamika/Pertumbuhan Masyarakat

Peter Berger : (March 17, 1929 – June 27, 2017) was an Austrian-born American

Di antara masyarakat dan individu terjadi proses dialektika. (apa ayang dialami atau dilakukan oleh individu, akan mempengaruhi dan membentuk karakteristik masyarakat. Namun terjadi pula hal sebaliknya, yaitu masyarakatpun mempengaruhi individu)Hal ini dapat menyimak dalam Alquran, Surat Al-fath(48) : 29 berikut:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الإنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا (٢٩)

Al-Fath(48):29.

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud[1]. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.

[1] Maksudnya: pada raut muka mereka kelihatan keimanan dan kesucian hati . (sikap dan perilaku yang baik)

fakta sejarah membuktikan kepada kita bahwa sebuah masyarakat mempunyai masa tumbuh, maju, lalu mengalami kemunduran. Peradaban Mesir Kuno, Mesopotamia, India Kuno, Cina Kuno, Romawi, dan Kekhalifahan serta Dinasti-Dinasti Muslim, adalah beberapa contoh dari masyarakat yang tumbuh, maju, dan mengalami kemunduran. Saat ini kita harus mengakui bahwa masyarakat yang sedang mengalami kemajuan, setidaknya dalam ekonomi dan teknologi, adalah masyarakat Barat yang secara geografis dan kebudayaan berada di Eropa dan Amerika. Kebudayaan Baratlah yang sekarang mendominasi dunia dengan nilai dan cara hidup.

3. Tujuan Perubahan Sosial

Kehidupan masyarakat tak lepas dari prinsip-prinsip nilai dan norma . Masyarakat tidak dibiarkan menjalani proses tanpa tujuan, tetapi diarahkan untuk menuju kondisi ideal yang dicita-citakan. Masyarakat ideal adalah masyarakat yang anggota-anggotanya saling mencintai (tahabub), saling menasehati (tawashi dan tanahi), memiliki rasa persaudaraan (ta’akhiy), bekerja sama (ta’awun), saling mengajar (ta’alum), percampuran (tazawuj), saling menghibur (tawasi), dan saling menemani (tashaduq dan ta’anus).[1]

[1] Ismail Raji Al-faruqi, Tauhid, (Bandung: Penerbit Pustaka, 1995), hal. 132.

Mengutip/menukil/merujuk Ayat Al-Qur’an sebagai berikut:

وَلا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ بَعْدَ إِصْلاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ (٥٦)

Al-A’raf(7):56.

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah Amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.

Tanggung jawab mewujudkan masyarakat yang ideal bukanlah tanggung jawab perseorangan tapi merupakan tanggung jawab kolektif/bersama.

Perintah untuk saling menolong dan saling mengingatkan (menasihati) termuat/tercantum dalam ayat-ayat Alquran.

 

 

 

 

 

 

 

Iklan