MOBILITAS SOSIAL


A. Pendahuluan
Mobilitas sosial pada dasarnya merupakan perubahan susunan status seseorang dalam masyarakat baik secara vertikal maupun secara horizontal. Proses seperti ini berlangsung melalui interaksi melalui nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat (proses sosial). Proses ini berlangsung sampai akhir jaman. Dengan demikian proses perubahan struktur sosial akan terjadi secara kontinyu dalam kehidupan masyarakat.
Mobilitas sosial mendiskripsikan perubahan status dan peran dari sseseorang yang ada dalam masyarakat dari masa ke masa. Proses ini berlangsung bersamaan dengan proses interaksi sosial dalam masyarakat. Untuk menganalisis lebih lanjut tentang terjadinya mobilitas sosial dalam struktur sosial suatu masyarakat akan diuraikan berikut ini.

1. Pengertian Mobilitas Sosial
Secara etimologis konsep mobilitas sosial berasal dari kata mobilis (latin) yang berarti bergerak/berpindah, dan kata social (Inggris), yang artinya masyarakat. Jadi mobilitas sosial adalah gerakan/pindahan masyarakat. Menurut pakar sosiologi Indonesia Soerjono Sukanto 1987, mobilitas sosial adalah suatu gerak dalam struktur sosial, yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial. Dari uraian tersebut di atas, dapat disimpulkan dengan pengertian sederhana bahwa mobilitas sosial merupakan perubahan kedudukan/status individu ataupun kelompok individu dalam masyarakat baik secara vertikal maupun secara horizontal.
Proses berubahnya kedudukan secara vertikal disebabkan oleh adanya proses alamiah, yang berlangsung melalui saluran pendidikan, politik, maupun yang bersifat sosiokultural. Setiap kedudukan yang ada di dalam masyarakat mempunyai sejumlah peranan yang berisi tentang hak-hak maupun kewajiban yang harus dilakukan seseorang berkaitan dengan statusnya.

2. Hubungan antara Struktur Sosial dan Mobilitas Sosial
Dalam masyarakat, proses sosial menunjukkan terjadinya bermacam-macam interaksi sosial antarkomponen masyarakat. Proses interaksi sosial mengakibatkan terjadinya pengesahan pola pikir dan tata nilai dari satu pihak ke pihak yang lain. Interaksi sosial memungkinkan terjadinya perubahan-perubahan pola pikir dan terjadinya mobilitas sosial dalam masyarakat. Terjadinya mobilitas sosial berarti telah terjadi perubahan perubahan status orang-orang baik secara vertikal maupun secara horizontal.
Setiap saat status sosial dapat mengalami perubahan karena proses evolusi alam, misal dalam lingkungan kerja di pemerintahan, yaitu dengan bertambahnya usia pejabat sehingga memasuki usia pensiun. Kondisi ini memungkinkan generasi di bawahnya mengisi kekosongan jabatan-jabatan tersebut. Perubahan personil terhadap para pejabat merupakan bentuk mobilitas sosial vertikal yang sekaligus merupakan perubahan struktur sosial dalam masyarakat.


Sumber: Foto Haryana
Gambar 3.1 Stratifikasi sosial berdasarkan tingkat pendidikan sebagai perwujudan struktur sosial vertikal.

Di sisi lain setiap orang cenderung menginginkan perkembangan status yang dimiliki untuk menjadi lebih baik dan lebih tinggi. Kondisi ini memungkinkan adanya gerakan mobilitas bagi tiap-tiap individu untuk mendukung jabatan-jabatan yang lebih tinggi atau lebih baik. Hal ini berlangsung baik di instansi pemerintah maupun instansi-instansi swasta.
Perubahan struktur sosial yang ideal tidak hanya disebabkan oleh tiga faktor tersebut di atas, tetapi harus direncanakan baik-baik pergantiannya, hal ini bertujuan untuk memperoleh personil-personil yang pantas dan mempunyai kecakapan dan kemampuan, sehingga diperoleh tata kerja yang efektif dan efisien untuk mengemban status sosial yang ada dalam masyarakat.

B. Macam-Macam Mobilitas Sosial
Mobilitas sosial di dalam masyarakat terjadi dalam berbagai bentuk, dan berlangsung secara kompleks yang melibatkan keterkaitan antara struktur yang satu dengan struktur yang lain. Untuk menelaah lebih lanjut tentang macam-macam mobilitas sosial dapat dilihat dari berbagai sudut pandang sebagai berikut.

1. Mobilitas Sosial Vertikal
Mobilitas sosial vertikal adalah semua bentuk perubahan status ke arah vertikal, baik vertikal naik maupun mobilitas turun.
a. Karakteristik Gerak Mobilitas Sosial Vertikal 1) Setiap masyarakat mempunyai sistem yang tersendiri dalam proses mobilitas
sosial vertikal, baik yang bergerak naik maupun yang bergerak turun. 2) Betapapun terbukanya sistem pelapisan yang ada dalam masyarakat, tetapi
sedikit banyak dijumpai adanya hambatan untuk melakukan mobilitas sosial vertikal naik.
3) Mobilitas sosial vertikal disebabkan oleh faktor ekonomi, politik, dan jenisjenis pekerjaan.
4) Mobilitas sosial vertikal dapat terjadi setiap saat baik yang bersifat meningkat (social climbing) dan penurunan kedudukan (social sinking).
5) Mobilitas sosial vertikal terdapat pada setiap masyarakat, walaupun masyarakat itu memiliki sistem pelapisan tertutup, tetapi diyakini ada gerak sosial yang vertikal.
Untuk lebih jelasnya proses terjadinya mobilitas sosial vertikal perhatikan gambar berikut.

Dengan memerhatikan bagan tersebut, terlihat bahwa mobilitas sosial vertikal memungkinkan terjadinya gerak perubahan kedudukan ke atas maupun ke bawah. Untuk dapat melakukan proses perubahan ke atas memang diperlukan persyaratan-persyaratan khusus biasanya berupa prestasi, loyalitas, dan dedikasi pada atasan dan kepada organisasi secara umum.
Mobilitas sosial ke bawah (turun) biasanya terjadi akibat kesalahan yang fatal atau justru memasuki masa pensiun. Seseorang akan mengalami social climbing manakala orang itu dipandang mampu menjalankan peranan dalam statusnya, yaitu karena telah mendahulukan kewajiban-kewajiban daripada hak-hak yang semestinya diperoleh. Sebaliknya seseorang akan mengalami social sinking terutama karena orang tersebut dipandang kurang mampu atau kurang berhasil dalam menjalankan peran sosial sesuai dengan status yang diembannya. Biasanya orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang egois yang lebih mendahulukan hak-haknya daripada kewajiban-kewajiban yang semestinya dilakukan.
Mobilitas sosial vertikal dibedakan lagi menjadi 2 macam berdasarkan arah dari perubahan kedudukan individu/kelompok individu dalam masyarakat, sebagai berikut.

1) Mobilitas Sosial Vertikal Turun (Social Sinking) Penurunan status dapat terjadi karena kematian atau kesalahan
menjalankan tugas dalam suatu organisasi. Proses perubahan kedudukan vertikal turun seringkali menimbulkan perubahan kedudukan bagi orangorang yang ada di bawahnya untuk berpeluang menggantikan kedudukan yang kosong. Bagi orang yang melakukan proses social sinking  terjadi perubahan gejolak psikis terutama yang menyangkut masalah hak dan kewajiban yang secara mendadak dicabut atas dasar yang bersangkutan melakukan kesalahan atau karena memasuki usia pensiun. Social sinking terjadi apabila seorang individu kurang berhasil dalam menjalankan peran sosial sesuai dengan status yang diembannya. Di sisi lain social sinking juga dapat terjadi karena proses evolusi yang bersifat alamiah. Misalnya, meninggal atau pensiun.
2) Mobilitas Sosial Vertikal Naik (Social Climbing) Mobilitas sosial vertikal naik terjadi bila ada pejabat yang pensiun dan
ditunjang oleh prestasi yang menonjol bagi pejabat yang ada di bawahnya. Apabila diperhatikan secara psikologis social climbing merupakan suatu perubahan yang lebih menggairahkan karena ada proses peningkatan hak dan kewajiban bagi seseorang karena menduduki jabatan yang lebih tinggi dan lebih baik. Sebalikya makin tinggi kedudukan sosial dalam masyarakat membawa konsekuensi adanya tanggung jawab dan risiko yang makin besar pula.

Mobilitas sosial vertikal naik terjadi apabila seseorang mengalami peningkatan kedudukan menuju tingkatan yang lebih tinggi. Pada dasarnya setiap kedudukan memiliki hak dan kewajiban yang berbeda-beda. Di sisi lain makin tinggi kedudukannya makin besar pula jaminan kesejahteraannya yang diterima.
b. Faktor Penyebab Terjadinya Mobilitas Vertikal Sebab-sebab mobilitas vertikal turun, antara lain sebagai berikut:
1) karena berhalangan tetap atau sementara, misalnya sakit atau cacat tubuh akibat kecelakaan sehingga diganti dengan pejabat yang lain,
2) karena pejabat lama memasuki usia tua dan harus pensiun kondisi ini memungkinkan adanya pergantian dari generasi di bawahnya, dan
3) karena melakukan kesalahan yang bersifat fatal sehingga diturunkan.

Sebab-sebab mobilitas vertikal naik, antara lain sebagai berikut: 1) karena seseorang yang memiliki status tersebut mampu melakukan
peningkatan prestasi kerja sehingga dinaikkan dan 2) karena terjadi perubahan kedudukan sehingga ditunjuk untuk meng-
gantikan kedudukan yang kosong akibat proses peralihan generasi. c. Beberapa Akibat Adanya Gerak Mobilitas Sosial Vertikal
1) Unsur Degradasi Degradasi atau penurunan kedudukan merupakan suatu tindakan untuk mengganti seseorang yang kurang cakap dengan seseorang yang lebih cakap, tetapi dapat pula merupakan suatu hukuman.
2) Unsur Pelepasan Pelepasan pada dasarnya merupakan suatu bentuk pemutusan hubungan kerja secara mendadak, biasanya pelepasan terjadi karena suatu kesalahan atau kecakapan yang kurang dalam usia yang cukup tinggi untuk dipensiunkan. Untuk meningkatkan efektivitas kerja dalam tubuh organisasi baik dalam organisasi pemerintah maupun swasta unsur pelepasan kadang-kadang dibutuhkan untuk memberikan shock terapi, yaitu bahwa hukum benar-benar ditegakkan berdasarkan derajat kesalahan yang dibuat oleh para karyawan.

3) Adanya Sistem Baru Sering kali seorang pejabat baru yang menduduki jabatan baru dalam struktur pemerintah maupun struktur organisasi swasta mempunyai keinginan yang kuat untuk menerbitkan suatu sistem organisasi yang baru dalam bentuk kebijakan-kebijakan yang baru. Kebijakan-kebijakan ini mungkin menyempurnakan kebijakan yang telah ada atau mungkin mengganti total kebijakan yang lama.
4) Unsur Penerimaan Dalam masyarakat modern untuk memperoleh nilai tambah dibutuhkan syarat-syarat pendidikan, baik melalui sekolah dan perguruan tinggi umum, maupun melalui tingkatan dinas intern dalam jawatan, kantor, ataupun perusahaan. Kapasitas atau kemampuan seseorang menjadi syarat yang dipentingkan dalam masyarakat modern, sedangkan  dahulu dititikberatkan pada keturunan, kekeluargaan, dan persahabatan.
5) Unsur Peningkatan Kedudukan Dalam hal kenaikan pangkat atau kedudukan pada bidang staf dan pimpinan, dititikebratkan pada kapasitas atau kemampuan seseorang.

Dari uraian tersebut menunjukkan bahwa gerak sosial masyarakat terjadi pada peralihan status dan peranan individu atau kelompok sosial dari suatu kedudukan sosial ke kedudukan sosial lainnya, baik yang sederajat maupun yang tidak sederajat.

2. Mobilitas Sosial Horizontal
Untuk mendeskripsikan perubahan struktur sosial dalam dimensi horizontal dapat dilihat dari mobilitas sosial horizontal, yaitu yang menyangkut perpindahan antarkedudukan yang sejajar, perubahan antarwilayah yang sejajar, atau sebaliknya. Dalam dunia kepegawaian mobilitas horizontal ini sering dilakukan secara periodik untuk mencapai peningkatan kinerja bagi para pegawainya.
a. Tujuan Mobilitas Sosial Horizontal 1) Untuk meningkatkan kegairahan kerja dengan melalui pergantian atau variasi
orang atau wilayah yang berbeda-beda. 2) Untuk meningkatkan produktivitas kerja sekaligus menghindari
penyimpangan-penyimpangan terhadap komunitas wilayah yang lama. 3) Untuk mendewasakan kemampuan seorang pejabat dalam mengatasi
macam-macam bentuk karakter wilayah.

b. Macam-Macam Mobilitas Sosial Horizontal Beberapa tipe gerak mobilitas sosial horizontal, antara lain sebagai berikut.
1) Mobilitas Sosial Antarwilayah (Geografis) Mobilitas sosial antarwilayah pada hakikatnya adalah semua bentuk
perubahan atau perpindahan status oleh individu atau kelompok individu dari satu wilayah ke wilayah yang lain. Peristiwa perpindahan status ini dapat terjadi setiap saat, manakala terjadi perombakan sistem kebijakan dalam suatu struktur masyarakat yang disebabkan karena faktor-faktor ideologi, faktor politik dan ekonomi, maupun faktor-faktor sosial budaya.
Dalam struktur organisasi baik struktur organisasi pemerintah maupun swasta istilah mobilitas sosial antarwilayah dikenal dengan nama rolling job yaitu perpindahan job atau jabatan yang sejajar tetapi berbeda wilayahnya. Ini mutlak harus dilakukan untuk meningkatkan efisiensi dan meningkatkan kinerja suatu organisasi. Untuk lebih jelasnya perhatikan bagan mobilitas sosial berikut ini.

Dari bagan mobilitas antarwilayah di atas, dapat dilihat bahwa mobilitas sosial yang terjadi hanya merupakan pergeseran daerah saja. Dengan demikian melalui mobilitas sosial antarwilayah kita dapat menyesuaikan diri dengan baik.

2) Mobilitas Sosial Antargenerasi Mobilitas sosial antargenerasi merupakan salah satu bentuk dari mobilitas
sosial horizontal yang meliputi satu lingkungan genealogis, sehingga terjadi peralihan generasi yang satu terhadap generasi yang lain. Berdasarkan struktur generasinya, mobilitas sosial akan menimbulkan perubahan kedudukan dari generasi tua ke generasi muda bahkan ke generasi berikutnya. Generasi yang menggambarkan perubahan kedudukan dari generasi yang pertama, generasi yang kedua, dan generasi yang ketiga seperti ini dinamakan mobilitas sosial antargenerasi.
Pada dasarnya mobilitas sosial antargenerasi adalah perpindahan sosial dari suatu generasi ke generasi berikutnya atau perpindahan kedudukan dan peran sosial dari generasi tua ke generasi muda. Mobilitas sosial antargenerasi ini sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, seperti yang terjadi pada pergantian generasi tentang kepemimpinan nasional negara kita, pergantian pimpinan, dan pergantian jabatan dari generasi tua ke generasi berikutnya.
Untuk mengetahui perkembangan suatu generasi, apakah mengalami peningkatan atau justru mengalami penurunan maka dapat dilihat melalui mobilitas antargenerasi tersebut. Melalui mobilitas antargenerasi ini kita tidak hanya memandang bahwa pelaku yang memiliki kedudukan selalu sama orangnya melainkan adalah anak keturunannya. Dalam kehidupan seharihari mobilitas sosial antargenerasi ada kecenderungan naik walaupun bagi generasi-generasi tertentu justru mengalami penurunan kualitas dari masingmasing generasi.
Apabila kita perhatikan dalam kehidupan sekarang, mobilitas sosial antargenerasi sering kita temui, seperti pada pergantian suatu jabatan organisasi, lembaga sosial, atau kepemimpinan nasional (presiden). Pergantian tersebut berjalan secara estafet dari generasi ke generasi berikutnya. Dengan demikian mobilitas sosial antargenerasi merupakan peristiwa sosial secara alamiah dari suatu sistem kemasyarakatan yang menunjukkan adanya dinamika sosial dari keseluruhan struktur sosial kemasyarakatan.
Hal yang menarik untuk dikaji secara sosiologis adalah sejauh mana prestasi sosial atau generasi sebagai angkatan kerja baik atau turun dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Dengan kata lain, adakah perbedaan status seorang anak sebagai kepala rumah tangga dengan status ayahnya sebagai kepala rumah tangga?

Untuk mengetahui sejauh mana posisi atau generasi naik atau turun dibandingkan dengan generasi pendahulunya diperlukan penelitian yang cermat. Apabila generasi sekarang tetap menempati posisi yang sama seperti generasi pendahulunya berarti tidak ada mobilitas antargenerasi. Misal, keluarga ayah petani begitu pula keluarga anak dan keluarga cucu.

Dengan memerhatikan bagan mobilitas sosial horizontal di atas maka jelaslah bahwa perubahan kedudukan yang terjadi adalah mendatar dalam arti tidak naik dan tidak turun, tetapi dari bidang atau wilayah yang satu ke bidang atau wilayah yang lain. Perubahan ini tentu akan mengakibatkan adanya penyesuaian dan koordinasi yang berbeda mengingat tiap-tiap wilayah atau tiap-tiap bidang pekerjaan memiliki karakteristik sendiri-sendiri.

Dari bagan mobilitas antargenerasi di atas kita dapat mengetahui bahwa: a) pelaku yang memegang kedudukan berbeda yaitu dari seorang kakek,
kepada anak dan kepada cucu dan b) melalui mobilitas antargenerasi ini dapat digunakan untuk mengetahui
perkembangan dari suatu generasi.