AL-BUKHARI BERAMAL DENGAN HADIST DHAIF?


AL-BUKHARI BERAMAL DENGAN HADIST DHAIF?

Tulisan ini mengacu pada rumusan masalah: adakah Imam Al-Bukhari beramal dengan hadist dhaif? Permasalahan ini berlaku apabila sekumpulan orang menegaskan bahwa Al-Bukhari melarang (ada yang berkata: mengharamkan) beramal dengan hadist daif. Pendapat seperti ini memang bukan hal baru, namun perlu ada perbaikan bilamana ada yang belum pernah diuji kebenarannya.[1] Saya berminat membahas perkara ini bukan untuk membela atau membantah pihak tertentu, akan tetapi untuk menjelaskan salah satu metode ulama mutaqaddimin yang seringkali samar sehingga terbuka untuk kesalahfahaman.

Untuk menjawab permasalahan ini, saya mengajak anda untuk merujuk/menukil/mengutip Sahih Al-Bukhari sendiri sambil menyadari bahwa kitab ini bukan sekedar “kumpulan hadist-hadist sahih” belaka. Jika begitu, sungguh sia-sia Al-Bukhari menghabiskan 16 tahun daripada usianya/semasa hidup hanya untuk membuat sebuah kitab yang hanya mengumpulkan hadist-hadist sahih tanpa menjelaskan kandungan hukum dan pengajaran yang terdapat di dalamnya. Siapa yang membaca kitab ini dengan teliti akan melihat bahwa kitab ini sebuah maha karya ilmu hadist yang sangat kaya dengan berbagai ilmu, terutama fiqh dan ijtihad. Oleh itu, untuk menjawab permasalahan ini, saya mengajak kita semua melihat sendiri praktik amaliah beliau dalam berhujah/beralasan/berdasar agar jelas bagi kita adakah beliau berhujah/beralasan/berdasar dengan hadist dhaif ataukah tidak?

 

Fiqh Al-Bukhari dan Hadist Muallaq

Para ulama berkata: “ فقه البخاري في تراجمه ” (Fiqah Al-Bukhari terdapat di dalam tajuk-tajuk babnya).[2] Oleh itu, jika kita hendak mengkaji praktik ijtihad Al-Bukhari, maka kita mesti fokuskan pandangan kita kepada tajuk-tajuk bab yang terdapat di dalam kitab ini. 

Dan siapa yang mengkaji tajuk-tajuk ini akan mendapati bahwa hujah fiqh Al-Bukhari sedikitnya terdiri dari dua bentuk hadist: hadist-hadist muallaq yang terdapat di awal bab dan hadist-hadist sahih yang terdapat dalam kandungan bab. Hadist-hadist kategori kedua, yakni yang diletakkan dalam kandungan bab, merupakan hadist-hadist inti yang dijamin kesahihannnya oleh Imam Al-Bukhari, oleh itu terkeluar daripada kajian saya kali ini. Saya hanya akan mengkaji hadist-hadist muallaq yang, menurut Al-Hafiz Ibn Hajar, tidak semuanya sahih, malah terdapat hadist-hadist lemah padanya.[3]

Apabila mengkaji hadist-hadist muallaq ini, kita mesti sadar bahwa tidak semuanya disebutkan Al-Bukhari sebagai hujah. Sebagiannya malah disebutkan untuk membantah hujah pihak lain dengan menyebutkan ‘illah yang terdapat di dalam hadist ini. Maka, saya akan mencoba melihat dengan hati-hati setiap hadist muallaq dhaif yang disebutkan Al-Bukhari, lalu memastikan apakah beliau berhujah/beralasan/berdasar dengannya ataukah tidak? Untuk mengelak subyekfitas, sekaligus meluruskan pemahaman saya yang lemah, saya selalu merujuk pendapat Ibn Hajar berkenaan setiap hadist yang saya sebutkan. Sebab beliau, menurut saya, merupakan ulama yang paling pakar dalam kajian hadist-hadist muallaq ini.[4]

Temuan

Kajian singkat saya menunjukkan bahwa Al-Bukhari sangat teliti memilih hujah-hujahnya. Sedapat mungkin beliau berhujah/beralasan/berdasar hanya dengan hadist-hadist yang sahih, namun begitu beliau tidak menutup pintu untuk beramal dengan hadist daif jika terdapat aspek-aspek eksternal (قرائن خارجية) tertentu yang mendukungnya. Beliau menggunakan hadist-hadist dhaif seperti ini bukan hanya dalam fadail a’mal, bahkan dalam beberapa permasalahan hukum. Namun nisbah hadist-hadist seperti ini sangat sedikit dibandingkan hadist-hadist sahih yang beliau gunakan.

Tulisan ini terlalu sempit untuk menghuraikan semua temuan saya, sebagiannyapun mungkin terbuka untuk bantahan dan penafsiran lain daripada pihak yang tidak setuju. Oleh itu, saya hanya akan menyebutkan beberapa perkara yang menurut saya sangat jelas dalam membuktikan kesimpulan dan rumusan saya tadi.

 

  1. Al-Bukhari beramal dengan hadist daif apabila kandungan hadist itu didukung oleh berbagai hadist-hadist lain yang serupa dengannya.

 

Contohnya ucapan Al-Bukhari dalam kitab Al-Zakat:

 

وَقَالَ طَاوُس : قَالَ مُعَاذ لِأَهْلِ الْيَمَنِ ائْتُونِى بِعَرْضٍ ثِيَابٍ خَمِيصٍ أَوْ لَبِيسٍ فِى الصَّدَقَةِ ، مَكَانَ الشَّعِيرِ وَالذُّرَةِ أَهْوَنُ عَلَيْكُمْ ، وَخَيْرٌ لأَصْحَابِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم بِالْمَدِينَةِ .

 

Dan berkata Tawus: Berkata Muadz kepada Ahli Yaman: “Berikan kepadaku pakaian yang lebar untuk zakat, sebagai ganti daripada gandum dan jagung, perkara itu lebih ringan untukmu dan lebih baik bagi sahabat-sahabat Nabi Saw di Madinah.”

Hadist ini beliau sebutkan untuk mendukung pendapat beliau berkenaan dengan kedapatan mengambil barang-barang lain selain emas dan perak sebagai zakat. Pendapat ini selaras dengan mazhab Hanafi. Berkata Ibn Rusyaid: “Al-Bukhari sepakat dengan Hanafiah dalam masalah ini meski beliau seringkali berberbeda pandangan dengan mereka. Dalil yang membawa beliau kepada sikap ini.”[5]

Jika kita kaji, sanad hadist ini sebenarnya munqati (terputus), Tawus bin Kisan tidak berjumpa dengan Muadz bin Jabal.  Berkata Ibn Hajar:

هَذَا التَّعْلِيق صَحِيحُ الْإِسْنَادِ إِلَى طَاوُس ، لَكِنَّ طَاوُسًا لَمْ يَسْمَعْ مِنْ مُعَاذ فَهُوَ مُنْقَطِع ، فَلَا يُغْتَرُّ بِقَوْلِ مَنْ قَالَ ذَكَرَهُ الْبُخَارِيّ بِالتَّعْلِيقِ الْجَازِمِ فَهُوَ صَحِيحٌ عِنْدَهُ لِأَنَّ ذَلِكَ لَا يُفِيدُ إِلَّا الصِّحَّة إِلَى مَنْ عُلِّقَ عَنْهُ ، وَأَمَّا بَاقِي الْإِسْنَادِ فَلَا ، إِلَّا أَنَّ إِيرَادَهُ لَهُ فِي مَعْرِضِ الِاحْتِجَاجِ بِهِ يَقْتَضِي قُوَّتَهُ عِنْدَهُ ، وَكَأَنَّهُ عَضَّدَهُ عِنْدَهُ الْأَحَادِيثُ الَّتِي ذَكَرَهَا فِي الْبَابِ .

Ta’liq ini sahih sanadnya kepada Tawus, akan tetapi Tawus tidak mendengar daripada Muadz, jadi ia munqati. Maka janganlah tertipu dengan ucapan orang yang berkata bahwa Al-Bukhari menyebutnya dengan sighat jazm bermakna hadist ini sahih di sisinya, sebab perkara ini hanya menunjukkan kesahihan hingga kepada orang yang dita’liq (yakni Tawus), adapun baki sanadnya tidak (sahih). Akan tetapi, beliau menyebutkan hadist ini untuk hujah menunjukkan kuatnya hadist ini di sisinya. Mungkin menurut beliau (kandungan) hadist ini didukung oleh hadist-hadist yang beliau sebutkan dalam bab ini.[6]

Sebelumnya, hadist ini juga dihukumkan munqati oleh Imam Al-Syafii, namun beliau menerima kandungannya karena beliau percaya Tawus benar-benar mengetahui perkara ini. Berkata Al-Syafii: “Tawus mengetahui perkara Muadz meskipun beliau tidak berjumpa dengannya karena beliau berjumpa ramai dengan murid-murid Muadz di Yaman setahuku.”[7]

 

  1. Al-Bukhari Beramal dengan hadist dhaif apabila kandungan hadist tersebut bersesuaian dengan amal yang disepakati seluruh ulama.

 

Berkata Al-Bukhari:

وَيُذْكَر أَنَّ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَضَى بِالدَّيْنِ قَبْل الْوَصِيَّة

Disebutkan bahwa Nabi Saw menetapkan bahwa hutang (mesti dibayar) sebelum wasiat.

Al-Bukhari menyebutkan hadist ini untuk mendukung pendapatnya bahwa membayar hutang orang yang meninggal dunia mesti didahulukan daripada melaksanakan wasiatnya. Meski hadist ini lemah sanadnya, namun beliau berhujah/beralasan/berdasar dengannya karena aspek lain yang meliputi hadist ini, yaitu para ulama bersepakat mengamalkan hadist ini.

Berkata Al-Hafiz Ibn Hajar:

هَذَا طَرَف مِنْ حَدِيث أَخْرَجَهُ أَحْمَد وَالتِّرْمِذِيّ وَغَيْرهمَا مِنْ طَرِيق الْحَارِث وَهُوَ الْأَعْوَر عَنْ عَلِيّ بْن أَبِي طَالِب قَالَ : ” قَضَى مُحَمَّد صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الدَّيْن قَبْل الْوَصِيَّة ، وَأَنْتُمْ تَقْرَءُونَ الْوَصِيَّة قَبْل الدَّيْن ” لَفْظ أَحْمَد وَهُوَ إِسْنَاد ضَعِيف ، لَكِنْ قَالَ التِّرْمِذِيّ : إِنَّ الْعَمَل عَلَيْهِ عِنْد أَهْل الْعِلْم ، وَكَأَنَّ الْبُخَارِيّ اِعْتَمَدَ عَلَيْهِ لِاعْتِضَادِهِ بِالِاتِّفَاقِ عَلَى مُقْتَضَاهُ ، وَإِلَّا فَلَمْ تَجْرِ عَادَته أَنْ يُورِد الضَّعِيف فِي مَقَام الِاحْتِجَاج بِهِ ، وَقَدْ أَوْرَدَ فِي الْبَاب مَا يُعَضِّدهُ أَيْضًا

Ini adalah sebagian daripada hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Tirmidzi dan lain-lain, dari jalan Harith Al-A’war, dari Ali bin Abi Talib: “Muhammad Saw telah menetapkan bahwa hutang sebelum wasiat, namun kamu membacanya wasiat sebelum hutang.” Demikian lafaz Ahmad. Ia adalah sanad yang lemah, akan tetapi Al-Tirmidzi berkata bahwa amal berlaku atas hadist ini menurut para ahli ilmu. Seolah-olah Al-Bukhari berpegang dengan hadist ini karena sokongan kesepakatan (ulama) akan isinya. Jika tidak, bukan kebiasaan beliau menyebutkan hadist dhaif dengan tujuan berhujah/beralasan/berdasar. Beliau juga menyebutkan di dalam bab ini, perkara-perkara yang mendukungnya.[8]

Menarik ucapan Ibn Hajar bahwa bukan kebiasaan Al-Bukhari  berhujah/beralasan/berdasar dengan hadist dhaif, namun beliau kadangkala melakukannya jika memenuhi syarat-syarat tertentu sebagaimana kesimpulan saya di atas. Ini juga mendukung kesimpulan bahwa Al-Bukhari tidak pernah melarang beramal dengan hadist dhaif, malah kadang melakukannya sebagaimana sikap jumhur fuqaha.

 

  1. Al-Bukhari terkadang beramal dengan hadist dhaif apabila kandungannya menjelaskan atau menafsirkan kandungan hadist lain.

Sebagian pembaca mungkin akan menyanggah bahwa kategori ini masuk dalam bagian hasan lighairi. Namun pendapat ini menurut saya sangat lemah. Jika benar hadist ini hasan lighairi menurut Al-Bukhari, dan saya menyangsikan beliau memiliki konsep hasan lighairi sebagaimana yang difahami oleh mutaakhirin, niscaya beliau tidak akan meriwayatkannya dengan sighat tamrid. Sebaliknya, beliau akan menggunakan sighat jazm sebagaimana kebiasaan beliau di hadist-hadist yang lain.

Misalnya, berkata Al-Bukhari:

 وَيُذْكَر عَنْ أَبِي حَسَّان عَنْ اِبْن عَبَّاس أَنَّ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَزُور الْبَيْت أَيَّام مِنًى

“Disebutkan daripada Abu Hassan dari Ibn Abbas bahwa Nabi Saw berziarah (maksudnya: melakukan tawaf ziarah/ifadah) pada hari-hari Mina.”

Menurut Al-Hafiz Ibn Hajar, tujuan Al-Bukhari menyebutkan hadist ini adalah untuk menghimpun dua riwayat yang saling bertentangan, yakni riwayat Ibn Umar dan Jabir yang menceritakan bahwa Nabi Saw melakukan tawaf ifadah pada siang hari, dan riwayat Abu Zubeir dari Ibn Abbas bahwa Nabi Saw melakukan tawaf itu pada malam hari. Riwayat Abu Hassan ini menghimpun kedua hadist ini dan menyimpulkan bahwa Nabi Saw melakukan kedua-duanya (tawaf pada siang dan malam hari) sebab baginda tawaf berkali-kali selama mabit di Mina.

Berkata Ibn Hajar: “Maka yang dimaksudkan dalam hadist Jabir dan Ibn Umar adalah hari pertama. Dan hadist Ibn Abbas untuk hari-hari (Mina) yang lain.”[9] Beliau juga berkata: “Terdapat hadist mursal yang mendukung riwayat Abu Hassan ini. Dikeluarkan oleh Ibn Abi Syaibah dari Ibn Uyainah: telah memberitahuku Ibn Tawus dari bapaknya: bahwa Nabi Saw bertawaf setiap malam.”[10]

Jadi, jelaslah bahwa Al-Bukhari berhujah/beralasan/berdasar dengan hadist ini dalam sebuah masalah hukum. Padahal, jika kita perhatikan sanad hadist ini, ianya cukup lemah. Guru-gurunya, seperti Ibn Al-Madini dan Ahmad bin Hanbal, mengingkari hadist ini karena tidak ada yang meriwayatkannya dari Qatadah melainkan Hisyam. Agaknya, pandangan Al-Bukhari tentang hadist ini pun tidak jauh berbeda dengan kedua gurunya. Berkata Ibn Hajar:[11]

وإنَّما مَرَّضَه البُخاريُّ لِشِدَّةِ غَرابَتِهِ

Al-Bukhari menyebutnya dengan sighat tamrid karena sangat munkarnya.

Pendapat Jumhur

Dapat disimpulkan bahwa Al-Bukhari tidak melarang, apalagi mengharamkan, beramal dengan hadist dhaif jika kandungannya didukung oleh berbagai aspek eksternal yang menguatkannya.  Paling tidak, itulah yang dipahami oleh Al-Hafiz Ibn Hajar apabila memelihara/mensyarahkan hadist-hadist muallaq tersebut di atas.

Pendirian Al-Bukhari ini sama sekali tidak merendahkan derajat beliau sebagai ahli hadist yang paling unggul, malah menunjukkan ketinggian derajat beliau dalam hadist dan fiqh sekaligus. Sebab sikap yang beliau tunjukkan ini tidak lain adalah pendapat mayoritas ulama dari kalangan ahli hadist dan ahli fiqh dari kalangan ulama tabiin, juga guru-guru Al-Bukhari, rekan-rekannya, dan murid-muridnya,  dan sebagian besar ulama.

Kenyataan ini sekaligus menyadarkan kita untuk selalu melihat para ulama secara objektif dan bukan secara subyektifitas yang hanya menginginkan mereka berperilaku selaras dengan pemahaman dan tujuan kita. Semoga Allah memberikan kebijaksanaan kepada kita semua secara benar. Wallahu a’lam bissawab.

 

  1. Pendapat sedemikian pernah disebutkan oleh Syeikh Al-Qasimi dalam “Qawaíd Al-Tahdith” hal. 113. Beliau berkata: “Yang zahir, mazhab Al-Bukhari dan Muslim seperti itu (yakni tidak beramal dengan dhaif secara mutlak. Menunjukkan perkara itu adalah syarat Al-Bukhari dalam Sahih-nya …”
  2. Muqaddimah Fath Al-Bari hal.17.
  3. Sila kaji perbahasan panjang lebar tentang perkara ini yang disebutkan Ibn Hajar dalam Muqaddimah Fath Al-Bari, hal.24 dan seterusnya.
  4. Kitab beliau bertajuk Taghliq Al-Ta’liq membuktikan perkara itu. Sejauh pengetahuan saya tidak ada kitab yang membahas hadist-hadist muallaq Sahih Al-Bukhari selengkap kitab ini. 
  5. Fath Al-Bari 3/392.
  6. Ibid 3/393.
  7. Al-Um 2/12.
  8. Fath Al-Bari 5/462.
  9. Fath Al-Bari 3/716.
  10. Ibid. 3/717.
  11. Taghliq Al-Ta’liq
Iklan

Tentang MOH KUSNARTO

Pendidikan S-1 sejarah UNESA SMA Negeri 1 Sampang SMP Negeri 1 Sampang SD Negeri Gunung Sekar 1 Sampang TK Brawijaya (804) Lahir : Sampang, 08-12-1976 Unit Tugas : SMA Negeri 1 Torjun
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.