PENYERBUAN PKI 13 JANUARI 1965 (KANIGORO-KEDIRI)


Kediri (ANTARA News) – Para pelaku sejarah tak bisa melupakan tragedi berdarah di Desa Kanigoro, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, yang terjadi pada tahun 1965.

“Kami sudah berusaha mencoba melupakannya, tapi tragedi itu tetap saja tak bisa sirna dari ingatan masa lalu yang kelam itu,” kata Akhyar, salah seorang saksi mata Tragedi Kanigoro saat ditemui di MTs Negeri Kanigoro, Sabtu.

Pria berusia 59 tahun yang sehari-sehari bekerja sebagai tenaga pesuruh di Madrasah Tsanawiyah Negeri tertua di Kediri itu menuturkan, tragedi yang terjadi pada 19 Januari 1965 masih terekam jelas dalam ingatannya.

“Saat itu ada sekitar 100 orang PII (Pelajar Islam Indonesia) dari seluruh daerah di Jawa Timur yang sedang mengikuti rapat bersama di Masjid At Taqwa usai salat subuh. Tiba-tiba datang segerombolan orang berpakaian hitam-hitam menyerang mereka,” kata Akhyar yang saat itu bertugas mengamankan kegiatan tersebut.

Ia dan beberapa panitia keamanan acara tersebut tak berdaya menghadapi aktivis dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) berpakaian hitam-hitam dengan jumlah mencapai 10.000 orang, pimpinan Suryadi yang langsung menyeruak ke dalam masjid membubarkan acara PII itu.

“Saya dan beberapa teman langsung digelandang ke kantor kecamatan dan kantor polisi yang ada di Kras. Kalau saat itu kami melawan, sudah barang tentu banyak jatuh korban jiwa di pihak kami,” kata pria delapan anak dan tujuh cucu itu mengenang.

Karena masih tetangga dekat dengan Suryadi, Akhyar mengaku lebih beruntung dibandingkan dengan rekan-rekannya yang mengalami penyiksaan hebat. Bahkan ada diantaranya tewas dalam peristiwa berdarah yang terjadi 42 tahun silam itu.

Ia menyebutkan, saat peristiwa itu terjadi, PKI telah menguasai seluruh pelosok Kediri, bahkan pejabat pemerintahan, kepolisian, dan tentara dikuasai oleh orang-orang dari partai pimpinan DN Aidit itu. Di Desa Kanigoro sendiri, perbandingan kalangan santri seperti Akhyar dengan orang komunis adalah 1:25.

“Sedangkan saat Tragedi Kanigoro itu terjadi, memang PKI sedang giat-giatnya memberangus orang-orang Masyumi. Mereka ini melihat PII sebagai underbouw dari Masyumi,” katanya menuturkan.

Belakangan dia menyesalkan, hasil penelitian yang dilakukan para mahasiswa dan ahli sejarah yang mengaburkan fakta terjadinya tragedi berdarah di Kanigoro itu.

Oleh sebab itu, para saksi hidup, termasuk Akhyar, sebelumnya sempat menolak ketika diwawancarai mengenai tragedi itu.

“Mohon maaf kalau tadi saya sempat menolak, lantaran di tengah kami berusaha melupakan peristiwa itu ada penelitian yang seakan-akan kami bersalah,” katanya kepada ANTARA News di tengah-tengah wawancara.

Ia mengakui, setelah meletus Gerakan 30 September 1965 atau G-30S/PKI, warga masyarakat Kediri berhasil melakukan serangan balik dengan melucuti para pengikut PKI.

Desa Kanigoro dijadikan ajang pembantaian orang-orang PKI, dan mayat mereka dimasukkan ke dalam sebuah tanah galian besar yang saat ini dikenal oleh warga masyarakat sekitar dengan sebutan Makam Parik.

Demikian dengan Moningah (60) yang juga masih teringat dengan peristiwa pembantaian 1965 di Desa Kanigoro. “Kami ini sebenarnya orang kecil yang tidak tahu apa-apa dengan peristiwa itu,” kata istri Sukani (63), salah satu pengurus PKI di Desa Kanigoro itu.

Ia mengaku, telah kehilangan sejumlah kerabatnya dalam peristiwa berdarah yang terjadi dalam rentang September hingga Oktober 1965. “Tentu saya masih ingat peristiwa berdarah itu,” kata perempuan dengan pandangan menerawang mengingat peristiwa yang terjadi saat dia masih berusia 18 tahun itu.

Tidak hanya kerabat dan anggota keluarganya yang menjadi korban, namun haknya sebagai warga negara diberangus.

Sampai-sampai, anak semata wayangnya tak mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, sehingga sehari-hari kerjanya hanya membantu Sukani mencetak gorong-gorong di rumahnya di Desa Kanigoro.

http://m.antaranews.com

5 Balasan ke PENYERBUAN PKI 13 JANUARI 1965 (KANIGORO-KEDIRI)

  1. MOH KUSNARTO berkata:

    Dalam setiap saksi sejarah tidak selamanya menemukan titik terang, tentang peristiwa tsb. Bahkan pelaku sejarah pun tak sama dalam memberikan keterangan. terutama yang berkaitan dengan Politik tertentu mestinya mereka menyembunyikan hal yang sebenarnya. Hal ini terbukti kesaksian dari Moningah (60) yang juga masih teringat dengan peristiwa pembantaian 1965 di Desa Kanigoro. “Kami ini sebenarnya orang kecil yang tidak tahu apa-apa dengan peristiwa itu,” kata istri Sukani (63), salah satu pengurus PKI di Desa Kanigoro itu.

    Ia mengaku, telah kehilangan sejumlah kerabatnya dalam peristiwa berdarah yang terjadi dalam rentang September hingga Oktober 1965. “Tentu saya masih ingat peristiwa berdarah itu,” kata perempuan dengan pandangan menerawang mengingat peristiwa yang terjadi saat dia masih berusia 18 tahun itu.

  2. MOH KUSNARTO berkata:

    Kebenaran Tak dapat terungkap… karena sejarah bisa saja direkayasa…

  3. ini semua bukanlah tentang benar dan salah, karena dalam politik yang ada hanya menang dan kalah. siapa menang dialah yang benar, begitu pula yang kalah adalah yang salah. dalam peristiwa ini, kita hanya dapat menceritakan tentang fakta secara obyektif…yaitu, (1) ada kejadian penangkapan dan pembunuhan orang-orang Islam/ ulama/ santri oleh orang tak dikenal (yang kemudian dituduhkan pada PKI, padahal benar atau tidaknya belum dapat dikonfirmasi), (2) karena stigma yang menempel bahwa pelaku-pelaku penangkapan dan pembunuhan adalah orang-orang PKI, maka setelah tahun 1965 PKI yang dituduh melakukan makar dan gagal, dihabisi sampai ke akar-akarnya, (3) Fakta selanjutnya adalah, korban yang berjatuhan setelah peristiwa G30S tidak semua adalah PKI murni, banyak yang tidak tau atau hanya ikut-ikutan saja.
    Oleh karena itu, kita harus sadari bahwa peristiwa yang terjadi saat itu adalah peristiwa politik, namun berdampak sangat kompleks….Jadi, hal ini adalah renungan untuk kita semua. Semua korban baik di pihak muslim maupun yang dituduh PKI atau bahkan PKI sekalipun akan meninggalkan luka pada kerabat, keluarga yang ditinggalkan….

    • Ricky M Silaen berkata:

      Maaf…. Bapak ini buat tulisan kok banyak bohongnya….?

      Tulisan bapak tahun 2012 =====>>

      usia Kanigoro 59 tahun
      Berarti kanigoro lahir tahun 1953
      Tahun 1965 kanigoro usianya 12 tahun
      APAKAH ANAK 12 TAHUN BISA MENJADI PETUGAS KEAMANAN SEBUAH ACARA PERTEMUAN….????

      usia Moningah 60 tahun
      Berarti Moningah lahir tahun 1952
      Tahun 1965 Moningah usianya 13 tahun
      COBA BAPAK JELASKAN TULISAN BAPAK INI “Tentu saya masih ingat peristiwa berdarah itu,” kata perempuan dengan pandangan menerawang mengingat peristiwa yang terjadi saat dia masih berusia 18 tahun itu”

      Katakanlah massa PKI menyerang acara pertemuan tersebut, 10000 (SEPULUH RIBU) ORANG…..??? Dimana logikanya pak…..??? sebuah dusun kecil di era 60an…. massa sampai segitu banyak nya?

      Bapak kalau menuliskan tentang sejarah tolong cari sumber, saksi dan keterangan yang akurat, ini namnya bapak sudah membodohi masyarakat & memberi informasi palsu tentang sejarah suatu bangsa…….

      Oalaaahhhhh baaapppaaakkkkkk………..

      • MOH KUSNARTO berkata:

        Terimakasih banyak atas kritikan yang bapak sampaikan, Berkenaan Kanigoro itu sepertinya nama daerah bukan nama pelaku sejarah hingga tak ada umur kecuali hari jadi. Berkenaan Moningah terdapat dua penulisan umur 60 dan 63, perhitungannya 1965+63-18=2010 menunjukkan interview dilakukan pada pada Tahun 2010. Kebetulan saya posting tahun 2012 sumber Antara News.com Namun bila anda bisa menunjukkan sumber lain tentu bisa membantu saya menambah referensi. Berkenaan sumber sejarah yang akurat tergantung si penguasa pada waktu itu, yang kuat dialah yang berhak menulis sejarah. Yang lemah akan tewas dan dianggap penjahat atau pemberontak dalam penulisan sejarah.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s